Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Tarekat Naqshabandiyah di Indonesia

Tarekat Naqshabandiyah di Indonesia

Sejarah dan doktrin tarekat Naqsyabandiyah muncul pada tahun-tahun belakangan ini sebagai suatu topik populer, malah hampir-hampir menjadi mode dalam penelitian dan perbincangan di kalangan sarjana Barat di bidang Islam. Lebih penting ketimbang itu, Naqsyabandiyah telah menunjukkan semangat dan keuletan yang luar biasa di banyak wilayah di dunia Islam - Turki, Kurdistan, Afghanistan, Syria, Daghistan, Asia Tengah, Pakistan, Cina, dan Asia Tenggara. Kenyataan ini sudah cukup untuk menyanggah ramalan yang dibuat dengan penuh keyakinan oleh para orientalis dan Muslim "modernis" bahwa paguyuban sufi ditakdirkan untuk lenyap.

Tipu Daya Iblis

Tipu Daya Iblis

Sejak iblis divonis masuk neraka lantaran menolak perintah Allah ta'ala untuk bersujud kepada bapak manusia, Adam as, karena sifat sombongnya yang lebih membanggakan asal penciptaannya, maka saat itu pula genderang perang telah ditabuh oleh iblis. Dia bersumpah akan menggoda dan menipu daya manusia dari segala arah dengan berbagai carat agar manusia terjerumus ke dalam neraka bersamanya. Itulah sumpah dan cita-cita iblis yang pernah dinyatakan di hadapan Allah ta'ala, yang menyebabkan banyak ahli ibadah, penuntut ilmu, praktisi hukum, dan tokoh masyarakat terjebak dalam jeratan dan tipu daya iblis,lantaran begitu halus dan indahnya jebakan serta rekayasa yang dibuatnya. Tak heran jika fenomena khurafat, bid'ah, takhayul dan penyimpangan lainnya banyak bermunculan dan merebak di tengah-tengah masyarakat pada setiap generasi dengan modus serta tampilan yang berbeda.

Dari sekian banyak manusia, hanya ada satu tipe yang mampu melalui tipu daya iblis tersebut, yaitu orang-orang yang ikhlas dalam beribadah. Hal ini sejalan dengan janji Allah ta'ala yang ditegaskan dalam Al Qur'an Al Karim. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan menyadari tentang jebakan dan tipu daya iblis yang dapat menjerembabkan kita ke dalam keterpurukan yang berujung pada siksa api neraka.

Semoga buku yang memaparkanberbagai macam tipu daya iblis dalam setiap jenjang dan lini kehidupan masyarakat ini dapat menyadarkan kita agar lebih waspada serta memperbaiki diri dalam rangka beribadah lebih baik.

Minhajul Abidin

Minhajul Abidin

Kitab yang tengah Anda baca saat ini merupakan karya yang cukup sederhana menurut penulisnya, namun sarat makna bagi siapa saja yang berusaha untuk menempuh jalan menuju Allah swt. Di dalamnya dijelaskan berbagai sisi pencarian dan bekal bagi para pecinta sejati serta mereka yang membutuhkan bimbingan, agar dapat menemui Rabbnya dalam kondisi mendapatkan ridha dari-Nya.

Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya

Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya

Buku yang sedang anda hadapi ini adalah merupakan gabungan dari dua buah karya Hamka yang dikarangnya pada tahun-tahun lima puluhan yaitu, Buku Pertama berjudul "Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad", terbit pertama kali pada tahun 1952 dan buku kedua ialah "Mengembalikan Tasauf kepangkalnya", yang berasal dari pidato Inugurasi pengarangnya sebagai Guru Besar Ilmu Tasauf di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta tahun 1958, yang pernah diterbitkan sebagai brosur oleh Penerbit Panji Masyarakat.

Atas persetujuan pengarang, kami mencantumkan judul baru untuk kedua buku ini dengan "Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.

Penerbitan buku ini telah berulang sebanyak tujuh kali, dan pada waktu, ini tengah beredar pula cetakan pertama di Kuala Lumpur. Hal ini menunjukkan besarnya minat pembaca akan pengetahuan tentang Tasauf Islam.

Bidayatul Hidayah

Bidayatul Hidayah

Kitab "Bidayatul Hidayah” adalah di antara kitab karangan Imam Hujjatul Islam Al GhazaU Rahimahullahu Taala yang banyak diberi berkat oleh Allah Taala. Dan kitab ini telah banyak memberi faedah dan bimbingan bagi setiap orang yang mentelaahnya dengan niat yang ikhlas untuk mengamalkan isi dan kandungannya. Paedah dan manfaatnya sudah jelas dan tidak dapat diragui lagi.

Perkembangan tasawuf dari Abad ke Abad

Perkembangan tasawuf dari Abad ke Abad

Dalam pengantar buku ini, penulis menegaskan bahwa"...hidup Kerohanian, atau hidup Kebatinan, atau Hidup Tasawuf itu adalah salah satu pandangan hidup yang terpenting pula dalam perkembangan Agama Islam, dan amat besar pula pengaruhnya di Indonesia ini, maka tertariklah hati saya ·menyelidiki Tasawuf Islam sejak dari masa tumbuhnya sendiri, dan dasar pengambilannya sejak Dasar Islam ditegakkan oleh Nabi kita Mohammad saw, sampai kepada sahabat-sahabat beliau, sampai kepada orang-orang utama pengikut sahabat, sampai kepada masa bertumbuhnya Tasawuf dengan amat suburnya karena usaha ahli-ahli Tasawuf yang besar-besar, sejak Abu Yazid Bustami, Junaid, Syibli, Al-Hallaj, Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Suhrawardi .dan lain-lain sampai juga kepada hubungan Tasawuf dengan Filsafat, dengan keindahan (Estetika), Akhlak (Etika) dan lain-lain. Dan sampai juga kepada cahaya Tasawuf menjadi muram dan tidak berkembang lagi, karena membekunya pikiran tersebab jatuhnya derajat Kaum Muslimin di Abad Ketujuh dan Kedelapan Hijriah (Tiga Belas dan Empat Belas Masehi).

Inilah usaha panggal pertama, sehingga dapat dilihat Tasawuf dalam Kesatuannya dan hubungannya dengan Ilmu-Ilmu yang lain dalam Islam. Demi apabila pekerjaan yang pertama ini telah selesai, teguhlah 'azam saya hendak melanjutkannya pula kelak menyelidiki perkembangan Tasawuf itu di tanah Indonesia ini. Maka insaflah saya akan beratnya pekerjaan ini. Tetapi pertolongan daripada beberapa orang ahli agama dan Tasawuf amat banyak kepada saya dalam usaha ini. Semoga jasa mereka dibalasi Tuhan.

Apabila (buku) "Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad" ini telah dapat menambah pengetahuan dan perpustakaan Islam Indonesia khususnya, dan ahli-ahli pencinta Kebatinan Indonesia umumnya, karena buku yang seperti ini nampaknya sangat dihajatkan dalam pembinaan Jiwa Indonesia Baru, maka merasa berbahagialah pengarang, dan bersyukurlah dia kepada Tuhan.

Copyright 2025 | Ya Saifuna. All rights reserved