Satu-satunya tafsir al-Quran fenomenal yang ditulis tokoh Nusantara, H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka.
Satu-satunya tafsir al-Quran fenomenal yang ditulis tokoh Nusantara, H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka.
Buya Hamka, seotang tokoh muslim Indonesia yang cukup disegani dan memiliki kualitas keilmuan yang sangat diperhitungkan para ulama yang hidup sezamannya. Nama lengkap beliau adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah. Nama besar beliau tidak hanya dikenal di manca negara bahkan di dunia internasional pun beliau mendapat posisi terhormat, terutama di kalangan para pakar muslim.
Sejak Indonesia Merdeka timbullah minat yang sebesar-besarnya dari golongan yang mendapat didikan pada sekolah-sekolah Barat hendak mencari tempat tegak dan pendirian hidup yang teguh. Mereka tidak mau lagi, menjadi Pak Turut kepada Barat, semata-mata karena Baratnya. Mareka bergiat mencari, mencari, sampai dapat hendaknya dimana akan tegak "Manusia Indonesia Baru".
Saya sendiri sebagai seorang yang dididik dari keil dalam sasana surau, sejak berpindah ke Dakarta, senantiasa dihujani pertanyaan-pertanyaan yang pelit dan sulit berkenaan dengan Islam dan pandangan hidup agama Islam, terhadap soal-soal yang bersimpang siur di dunia pada masa ini. Adakah kesanggupan Islam menurutkan langkah dunia ke depan, mencari yang lebih sempurna. Atau adakah dia akan menjadi suatu barang beku yang tak dapat dibawa lagi.
Buku yang sedang anda hadapi ini adalah merupakan gabungan dari dua buah karya Hamka yang dikarangnya pada tahun-tahun lima puluhan yaitu, Buku Pertama berjudul "Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad", terbit pertama kali pada tahun 1952 dan buku kedua ialah "Mengembalikan Tasauf kepangkalnya", yang berasal dari pidato Inugurasi pengarangnya sebagai Guru Besar Ilmu Tasauf di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta tahun 1958, yang pernah diterbitkan sebagai brosur oleh Penerbit Panji Masyarakat.
Atas persetujuan pengarang, kami mencantumkan judul baru untuk kedua buku ini dengan "Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.
Penerbitan buku ini telah berulang sebanyak tujuh kali, dan pada waktu, ini tengah beredar pula cetakan pertama di Kuala Lumpur. Hal ini menunjukkan besarnya minat pembaca akan pengetahuan tentang Tasauf Islam.
Dalam pengantar buku ini, penulis menegaskan bahwa"...hidup Kerohanian, atau hidup Kebatinan, atau Hidup Tasawuf itu adalah salah satu pandangan hidup yang terpenting pula dalam perkembangan Agama Islam, dan amat besar pula pengaruhnya di Indonesia ini, maka tertariklah hati saya ·menyelidiki Tasawuf Islam sejak dari masa tumbuhnya sendiri, dan dasar pengambilannya sejak Dasar Islam ditegakkan oleh Nabi kita Mohammad saw, sampai kepada sahabat-sahabat beliau, sampai kepada orang-orang utama pengikut sahabat, sampai kepada masa bertumbuhnya Tasawuf dengan amat suburnya karena usaha ahli-ahli Tasawuf yang besar-besar, sejak Abu Yazid Bustami, Junaid, Syibli, Al-Hallaj, Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Suhrawardi .dan lain-lain sampai juga kepada hubungan Tasawuf dengan Filsafat, dengan keindahan (Estetika), Akhlak (Etika) dan lain-lain. Dan sampai juga kepada cahaya Tasawuf menjadi muram dan tidak berkembang lagi, karena membekunya pikiran tersebab jatuhnya derajat Kaum Muslimin di Abad Ketujuh dan Kedelapan Hijriah (Tiga Belas dan Empat Belas Masehi).
Inilah usaha panggal pertama, sehingga dapat dilihat Tasawuf dalam Kesatuannya dan hubungannya dengan Ilmu-Ilmu yang lain dalam Islam. Demi apabila pekerjaan yang pertama ini telah selesai, teguhlah 'azam saya hendak melanjutkannya pula kelak menyelidiki perkembangan Tasawuf itu di tanah Indonesia ini. Maka insaflah saya akan beratnya pekerjaan ini. Tetapi pertolongan daripada beberapa orang ahli agama dan Tasawuf amat banyak kepada saya dalam usaha ini. Semoga jasa mereka dibalasi Tuhan.
Apabila (buku) "Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad" ini telah dapat menambah pengetahuan dan perpustakaan Islam Indonesia khususnya, dan ahli-ahli pencinta Kebatinan Indonesia umumnya, karena buku yang seperti ini nampaknya sangat dihajatkan dalam pembinaan Jiwa Indonesia Baru, maka merasa berbahagialah pengarang, dan bersyukurlah dia kepada Tuhan.